Lavi yang sempurna… ( Dongeng gelap anak perawan ibukota part 2 )


HALO ! HALO! HALO!
Saya mau bercerita lagi tentang anak gadis ibukota Jakarta. Tentu saja , dia masih perawan dan memegang teguh norma serta ajaran agama. Namanya Lavi. Lagi – lagi karakter ini berusia akhir dua puluhan. Lebih tepatnya dua puluh tujuh tahun.

Lavi adalah seorang wanita muda yang sangat cantik. Tubuhnya Tinggi semampai, langsing bak model, kulitnya putih mulus, dan rambutnya tergerai lurus, panjang sepunggung.

Hidup Lavi sangat nyaman. Sebagai anak bungsu dari dua bersaudara dari keluarga high class, Lavi tidak pernah kekurangan. Setiap bangun pagi, ada embak yang membuatkan jus lemon campur brokoli dan nanas. Jus yang katanya menyehatkan dan kadar antioksidannya tinggi. Sehabis mandi, Lavi terbiasa mengacak – ngacak lemari pakaiannya untuk mencari kostum mana yang pas dipakai untuk kerja hari ini. Setelahnya, lavi tidak perlu repot – repot membereskan lemari yang sudah diacak – acak itu, sekali lagi ada embak yang bertugas membereskan kekacauan yang terjadi di lemari Lavi.

Embak dengan perlengkapan perangnya siap untuk membereskan tempat tidur, meja kerja, kamar mandi pribadi, dan lemari pakaian. Pendeknya, urusan bersih- bersih adalah keahlian si embak. Lavi tidak suka mengerjakan urusan perempuan. Lavi, adalah seorang wanita muda yang sedang meniti kariernya dalam bidang desain grafis. Bersih- bersih itu urusan ibu rumah tangga. Lavi mau jadi wanita karier yang sukses dan maju.

Barang – barang Lavi selalu luxurious dan unik. Lavi sama seperti cewek – cewek lainnya, hobi belanja dan hobi dandan. Meskipun termasuk cewek high mantainance yang rutin ke salon seminggu sekali untuk curly, rajin setor muka di bioskop untuk menonton filem2 box office terbaru, dan koleksi pakaian yang selalu up to date ( dibeli di butik khusus yang enggak pernah diskon sampe kiamat ), Lavi juga pintar mencari uang. Ada saja pemasukan tambahan sebagai freelancer Desain Grafis. Dan hasilnya lebih dari lumayan untuk keperluan hura – hura Lavi.
Pokoknya acara belanja, sosialita, dan travelling selalu tercover and affordable untuk cewek sekelas Lavi.

Biasanya sepulang kerja, Lavi kumpul2 bersama teman – teman se gank nya. Diantara mereka semua, Lavi paling cantik. Dia paling modis, paling berduit, dan paling menarik perhatian lawan jenis. Hampir setiap malam mereka pergi hang out dari satu kafe ke kafe happening lainnya. Kadang ber lima, kadang ber Sembilan. Sesekali ada cowok- cowok yang ngikut bersama mereka. Kadang cewek semua.

Cowok – cowok yang ngikut mereka itu biasanya punya maksud untuk mendekati Lavi. Tak terhitung sudah cowok yang pedekate dengan Lavi. Berbagai rupa, suku, dan profesi. Teman – temannya heran kenapa Lavi gak juga menentukan cowok pilihannya. Padahal cowok – cowok yang pedekate termasuk High Quality loh. Tampang dan kerjaan mereka oke. Biasanya sudah pada mapan. Punya perusahaan sendiri, atau bantu – bantu perusahaan orang tua. Kebanyakan sekolah lulusan luar negeri, dan bermobil SUV. Pria – pria yang mengerubungi Lavi ini sudah punya rumah pribadi, atau apartemen pribadi lengkap berserta furniturenya. Beberapa diantaranya punya kolam renang atau lapangan basket pribadi. Tapi, semua harta dan prestasi itu belum berhasil menarik perhatian Lavi.

Bingung juga teman – teman dan keluarga, dengan apa yang dimaui oleh Lavi. Cukup lama Lavi menjomblo. Kira – kira lima tahun. Di lima tahun yang panjang itu, dua orang teman Lavi yang mukanya pas – pasan , berbadan biasa, dan berpenampilan ala kadarnya meninggalkan masa lajangnya. Mereka mendapatkan pria yang juga mapan dan sudah punya rumah pribadi. Dua orang lainnya saat ini baru saja menemukan belahan jiwanya. Yang pertama baru ketemu tiga bulan yang lalu, Dan saat ini sedang mempersiapkan acara lamaran nya. Sedangkan yang satu lagi menawarkan Lavi untuk menjadi bridesmaidnya. Tawaran Bridesmaid yang ketiga untuk Lavi.

Menurut kepercayaan orang bule, kalau jadi bridesmaid sampai tiga kali,bisa jadi perawan tua. Gak laku-laku. Tapi itu kan kata kepercayaan. Lavi enggak percaya dengan hal – hal kolot seperti itu. Lavi adalah wanita yang modern dan maju.

Sebagai jomblo yang tersisa, Lavi ahkirnya berhasil menemukan pria yang disukainya, yang cocok dan nyambung diajak ngobrol. Penantian yang panjang itu ahkirnya menemukan titik terang. Apalagi karena mami Lavi dan keluarga sudah geregetan menantikan lavi menggandeng seorang cowok. Selama ini mereka gemes dan penasaran, bagaiaman mungkin Lavi mereka yang cantik jelita, yang ceria dan mudah bergaul ini tidak kunjung membawa calon suami? Sedangkan semua teman nya yang lebih jelek , lebih pendek mendahului Lavi menuju altar. Bagaimana bisa Lavi yang sempurna ini terus menerus ketinggalan kereta menuju kebahagiaan abadi seluruh umat manusia ?

Jadi, ketika sang pangeran yang dinantikan datang, keluarga memberikan dukungan penuh. Mami sudah setuju, dan semua teman –teman pun setuju. Memang pria ini pria baik – baik dan enggak macem – macem. Pria yang hidupnya lurus. Tidak merokok, tidak dugem, tidak suka main perempuan, tidak berjudi, dan tidak suka main tangan.
Pokoknya pria yang ideaaaaalll banget.
Sempurna secara fisik, karakter, dan material.

Maka setelah tiga bulan berpacaran. Si pria yang bangga luar biasa karena berhasil memenangkan hati Lavi ini bersiap –siap mempertemukan Lavi kepada keluarga besarnya. Seorang pria baik – baik dari keluarga baik – baik tentu saja tidak mau berlama – lama memacari anak gadis orang. Apalagi semuanya sudah cocok.

Jadi pada suatu hari yang cerah di hari minggu, Lavi pergi menuju rumah sang calon mertua.

Ketika bertemu, Sang mamah mertua yang berdandan ala nyonya besar itu tentu saja langsung jatuh hati pada kecantikan, kesempurnaan , dan keramah tamahan Lavi. Betapa tidak, sang anak berhasil mendapatkan gadis baik – baik, beriman dan dari keluarga yang sejajar dengan keluarganya. Semuanya cocok, menurut perhitungan nyonya besar itu. Hanya ada satu hal lagi yang sangat penting menurut nyonya, SHIO.

Diantara semua hal, ada kepercayaan paling penting dalam keluarga nyonya besar, Yaitu Shio. Mereka sangat patuh dengan kepercayaan kolot tersebut. Suatu ketika, sang nyonya pernah mendatangi peramal di petak Sembilan, hendak menanyakan peruntungan dan jodoh anak lelakinya. kata peramal, Sang anak lelaki ini gak boleh ketemu sama perempuan shio macan. Apalagi macan yang lahir di malam hari. Katanya, itu macan yang lagi cari mangsa. Nanti anak nyonya bisa dimangsa sampai habis oleh macan betina. Sang nyonya yang ketakutan mengendapkan erat – erat ramalan tersebut di sudut pemikirannya yang terdalam.

Nah, sebelum Lavi pulang, nyonya besar tak lupa menanyakan pada lavi umur, shio serta jam kelahirannya. Betapa kaget nyonya besar ketika mengetahui Lavi yang cantik sudah begitu tua. Sudah dua puluh tujuh tahun, shio macan pula. Kelahirannya harus melalui proses persalinan yang sulit sampai jauh tengah malam, sehingga harus di operasi.

Yah, mau tidak mau nyonya besar harus bicara pada puteranya. Demi keselamatan sang anak lelaki. Hubungan mereka harus diahkiri. Mereka harus putus. Dan Nyonya besar yakin, anak lelakinya lebih nurut padanya ketimbang Lavi. Untung hubungan mereka baru berjalan tiga bulan. Syukurlah.

Sebulan berlalu dan Lavi kembali menghadiri acara pernikahan seorang temannya, sendirian. Teman – teman heran kenapa Lavi yang cantik tidak lagi bersanding dengan pangeran tampan yang pernah diperkenalkan Lavi. Apakah yang sudah terjadi ?

Hmmm…Lavi sendiri juga bingung. Bingung dengan alasan irasional yang diungkapkan mantan kekasih. Padahal sang mantan ini S2 lulusan Amerika loh. Tapi memilih percaya pada Shio dan ramalan.
Lavi yang cantik, baik, sempurna, sukses, dan dikejar – kejar semua pria ini harus dikalahkan oleh ramalan, shio dan jam kelahiran ? Dicampakkan karena sesuatu hal yang tidak bisa ia ubah. Sama seperti kita tidak bisa memilih orang tua kita sendiri. Sungguh dunia tidak adil untuk Lavi.
Ia nyaris sempurna, tapi karena shio macan dia menjadi tidak sempurna. Dan ia tidak bisa berbahagia bersama kekasih, karena dia macan.

Lalu Lavi menjawab ringan teman yang iseng bertanya tadi,” Habis gimana ya ? Saya ini orang! Bukan macan! Bukan binatang! Mending juga putus, daripada dikiran macan kumbang. Hehehehe….. “

Kenapa sih orang orang di dunia yang sudah modern ini senang dianggap seperti binatang ?! tambah Lavi didalam hati.

Dan topic ini pun berlalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s